Malam itu, entah apa yang membuat ku menangis dihadapannya. Tiba tiba saja air dari mataku mengalir perlahan membasahi pipi ini. Aku tak ingat betul apa yang terjadi sebelumnya, yang aku ingat hanya, aku pernah bahagia dibuatnya. Rasa bahagia yang pernah ada, yang pernah dengan sengaja ku simpan di kotak memori terindahku, malam itu hancur bak jatuh dari ketinggian berpuluh meter. Detik itu juga tak kuingat betapa riangnya aku dibuatnya. Semua rasa rinduku berubah menjadi sesuatu yang menurutku aneh. Aku membencinya, karena apa, karena ia menghancurkanku saat ia mengajakku terbang, dan dengan sengaja ia menghancurkan sayapku. Aku jatuh, aku hilang, aku sakit. Bangunku, aku lupa siapa kau, aku lupa kita yang dulu dan dengan sengaja pula aku melupakannya. Kucoba berkali kali, aku tak bisa dengan cepat melupakannya. Aku berjalan dan berlari. Aku bahagia dan tetap sama. Satu yang tak sama. Caraku melihatnya, ia hanya orang asing yang baru pertama kali kutemui. Ia hanya orang baru yang belum ku kenal.
Pernahkah kau mempercayai seseorang untuk menjaga hatimu agar tak terjatuh lagi? Pernah jawabku. Aku percaya, kau tak kan membiarkan ku jatuh berkeping, namun nyatanya kau menghancurkanku lebih dari keping. Dan kau tau rasanya? Sakit. Jika ku ingat lagi, aku masih bisa merasakan betapa sakitnya aku. Harapan tempatku bertumpu, hancur terkikis angin. Dan kau adalah anginnya. Sudah bahagiakah kamu membuat aku terpuruk?
Kini setalah ku nikmati apa yang terjadi padaku aku bisa melupakan semua. Namun satu, kau masih jadi orang asing bagiku. Ajari aku tuk tersenyum dihadapanmu seperti aku yang dulu...
//2228