Cari Blog Ini

Jumat, 24 Maret 2017

17.26 WIB

Aku sangat menyayangimu, Simbah. 
Aku akan sangat meindukanmu.
Saat dimana aku akan pergi kesekolah
Di pagi itu
Melihat senyummu adalah semangatku
Walaupun akhir akhir ini tak kulihat bulan sabit di wajahmu
Aku merindukan ketika aku menggendongmu 
Dan aku selalu bercanda
Dan simbah seketika ketawa
Dan sekarang siapa yang akan ku ajak bercanda seperti itu?
Yang setiap hari selalu nanyain udah pulang sekolah belum
Sekarang siapa yang nanyain seperti itu?
Yang setiap hari kerjaannya nyuruh aku makan
Sekarang siapa yang nyuruh aku makan, meskipun beliau belum makan
Yang sukanya makan eskrim terus nambah siapa sekarang?
Yang selalu ingin main main hpku
Masih banyak lagi dan lagi selama 18th bersama beliau.
Aku akan selalu merindukanmu.

Hari ini, di hari yang baik ini, Jum'at 24 maret 2017. Tuhan memanggil Simbahku setelah 2 hari ia genap berumur 90 tahun.

Widha janji, Widha akan wujudin mimpi mimpi simbah yang simbah impikan dari Widha. 

-17.26-

Minggu, 08 Januari 2017

Asing

Malam itu, entah apa yang membuat ku menangis dihadapannya. Tiba tiba saja air dari mataku mengalir perlahan membasahi pipi ini. Aku tak ingat betul apa yang terjadi sebelumnya, yang aku ingat hanya, aku pernah bahagia dibuatnya. Rasa bahagia yang pernah ada, yang pernah dengan sengaja ku simpan di kotak memori terindahku, malam itu hancur bak jatuh dari ketinggian berpuluh meter. Detik itu juga tak kuingat betapa riangnya aku dibuatnya. Semua rasa rinduku berubah menjadi sesuatu yang menurutku aneh. Aku membencinya, karena apa, karena ia menghancurkanku saat ia mengajakku terbang, dan dengan sengaja ia menghancurkan sayapku. Aku jatuh, aku hilang, aku sakit. Bangunku, aku lupa siapa kau, aku lupa kita yang dulu dan dengan sengaja pula aku melupakannya. Kucoba berkali kali, aku tak bisa dengan cepat melupakannya. Aku berjalan dan berlari. Aku bahagia dan tetap sama. Satu yang tak sama. Caraku melihatnya, ia hanya orang asing yang baru pertama kali kutemui. Ia hanya orang baru yang belum ku kenal.

Pernahkah kau mempercayai seseorang untuk menjaga hatimu agar tak terjatuh lagi? Pernah jawabku. Aku percaya, kau tak kan membiarkan ku jatuh berkeping, namun nyatanya kau menghancurkanku lebih dari keping. Dan kau tau rasanya? Sakit. Jika ku ingat lagi, aku masih bisa merasakan betapa sakitnya aku. Harapan tempatku bertumpu, hancur terkikis angin. Dan kau adalah anginnya. Sudah bahagiakah kamu membuat aku terpuruk?

Kini setalah ku nikmati apa yang terjadi padaku aku bisa melupakan semua. Namun satu, kau masih jadi orang asing bagiku. Ajari aku tuk tersenyum dihadapanmu seperti aku yang dulu...

//2228