Cari Blog Ini

Selasa, 13 Desember 2016

Tentang Aku, Kamu dan Senja

Kamu tak pernah tau betapa bosannya senja mendengarkan ceritaku tentangmu. Setiap kali aku datang, selalu yang ku ceritakan tentangku dan kamu hari itu. Bagaimana aku melihatmu hanya dari kejauhan, berharap kamu tau. Menatapmu aku hanya mampu tak lebih lama setelah ku berkedip. Bayang tentangmu hadir ketika jingga menghangatkan tubuhku. Bahagiaku saat itu sangat sederhana. Sesekali ombak membawa jejak yang ku tinggalkan, membasuh lembut kaki ini. Sosokmu tak akan hilang meski banyak yang datang. Sosokmu akan tetap menjadi selimut suteraku yang lembut. Jingga perlahan menghitam. Bintang berkedip merayu, memintaku untuk tetap tinggal. Ia ingin mendengar senangnya hatiku memelukmu. Ku ceritakan pada bintang yang tersenyum, bahagia ku melihat senyummu. Kali itu aku merindukanmu. Aku berbagi kesedihan pada angkasa, betapa sakit di peluk rindu. Aku terus menelusuri pasir dengan deburan ombak berharap kamu menungguku di ujung sana dengan cahaya bintang atau hangatnya senja. Aku hanya menemukanmu berdiri di sana, semakin aku mendekat semakin kamu jauh. Setelah berlari mengejarmu, dan aku sadar, kamu hanya hayalanku.
Malam kian larut. Aku semakin terlarut dalam perasaan yang campur aduk. Pulangku diantar bulan dengan sinarnya menyinari jalanku. Kembaliku sore hari lagi setelah ku lelah menunggu. Senja tau apa yang terjadi. Jingga menceritakan pada senja saat aku asik dengan hayalanku. Senja memang paling jujur. Membawaku ke kenyataan, jika ada yang lebih indah dari sekedar hayalan. Kamu ada dan kamu nyata. Apakah aku bisa mengubah antara aku dan kamu menjadi kita? Dan kamu mengijinkanku menjadi bagian dari jalan hidupmu? Tak lagi ku memandangmu dari kejauhan, tak lagi ku menyerah saat menatapmu. Kini kulihat diriku dimatamu. Senja benar, kamu adalah bahagia yang nyata. Bukan lagi aku dan hayalanku yang selalu aku dewakan. Nyatanya kamu menungguku di lain sisi dan aku tak pernah menyadari itu. Aku hanya perlu bermanufer untuk bertemu denganmu. Ku bawakanmu bintang untuk menerangi jalan kita. Aku mencarimu dan kamu menemukanku. Angin berhembus, suara gemercik air yang beradu dengan pasir putih dan hangatnya jingga menemaniku duduk berdua melukiskan cerita. Memandang angkasa yang ikut bahagia, melihat senja tersenyum dan melihat senyummu yang selalu aku impikan kini ada dihadapanku. Senja pernah bilang kepadaku “kamu tak bisa hidup terlalu lama dengan hayalanmu, karena sesuatu yang lebih indah sudah menunggumu di kenyataan” dan itu benar, hadirmu menjadi temanku untuk menceritakan pada senja, aku bahagia, kamu bahagia dan kita bahagia. Burung kecil duduk dipinggir pantai, bersiul seakan ia sedang jatuh cinta. Jingga nampaknya tak ingin berlalu, ia belum menunjukkan tanda ia bosan kepadaku, ceritaku dan kita. Tapi alam sudah ada hukumnya, setelah senja pasti malam menjemput dengan jutaan bintang dan bulan terang.
Cahanya bulan menyinari wajahmu yang nampak begitu manis. Mata tak bisa bohong, aku terlalu senang menatapmu dalam diam dan kini kamu benar ada dalam nyataku. Terimakasih senja, jingga, bulan, bintang, malam, dan semua unsur pendukung bersatunya aku dan kamu. Selalu iringi langkahku, terangi jalanku dan tuntun aku. Aku menyayangimu seseorang yang dulu tak berani ku tatap matanya, yang kini telah menjadi lentera setelah senja menghitam  dalam hidupku. Teruslah bersamaku kita buat cerita senja kita selanjutnya. Aku, kamu dan senja. Sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar