Kamu
tak pernah tau betapa bosannya senja mendengarkan ceritaku tentangmu. Setiap
kali aku datang, selalu yang ku ceritakan tentangku dan kamu hari itu.
Bagaimana aku melihatmu hanya dari kejauhan, berharap kamu tau. Menatapmu aku
hanya mampu tak lebih lama setelah ku berkedip. Bayang tentangmu hadir ketika
jingga menghangatkan tubuhku. Bahagiaku saat itu sangat sederhana. Sesekali
ombak membawa jejak yang ku tinggalkan, membasuh lembut kaki ini. Sosokmu tak
akan hilang meski banyak yang datang. Sosokmu akan tetap menjadi selimut
suteraku yang lembut. Jingga perlahan menghitam. Bintang berkedip merayu,
memintaku untuk tetap tinggal. Ia ingin mendengar senangnya hatiku memelukmu.
Ku ceritakan pada bintang yang tersenyum, bahagia ku melihat senyummu. Kali itu
aku merindukanmu. Aku berbagi kesedihan pada angkasa, betapa sakit di peluk
rindu. Aku terus menelusuri pasir dengan deburan ombak berharap kamu menungguku
di ujung sana dengan cahaya bintang atau hangatnya senja. Aku hanya menemukanmu
berdiri di sana, semakin aku mendekat semakin kamu jauh. Setelah berlari
mengejarmu, dan aku sadar, kamu hanya hayalanku.
Malam kian larut. Aku semakin terlarut dalam
perasaan yang campur aduk. Pulangku diantar bulan dengan sinarnya menyinari
jalanku. Kembaliku sore hari lagi setelah ku lelah menunggu. Senja tau apa yang
terjadi. Jingga menceritakan pada senja saat aku asik dengan hayalanku. Senja
memang paling jujur. Membawaku ke kenyataan, jika ada yang lebih indah dari
sekedar hayalan. Kamu ada dan kamu nyata. Apakah aku bisa mengubah antara aku
dan kamu menjadi kita? Dan kamu mengijinkanku menjadi bagian dari jalan
hidupmu? Tak lagi ku memandangmu dari kejauhan, tak lagi ku menyerah saat
menatapmu. Kini kulihat diriku dimatamu. Senja benar, kamu adalah bahagia yang
nyata. Bukan lagi aku dan hayalanku yang selalu aku dewakan. Nyatanya kamu
menungguku di lain sisi dan aku tak pernah menyadari itu. Aku hanya perlu
bermanufer untuk bertemu denganmu. Ku bawakanmu bintang untuk menerangi jalan
kita. Aku mencarimu dan kamu menemukanku. Angin berhembus, suara gemercik air
yang beradu dengan pasir putih dan hangatnya jingga menemaniku duduk berdua
melukiskan cerita. Memandang angkasa yang ikut bahagia, melihat senja tersenyum
dan melihat senyummu yang selalu aku impikan kini ada dihadapanku. Senja pernah
bilang kepadaku “kamu tak bisa hidup terlalu lama dengan hayalanmu, karena
sesuatu yang lebih indah sudah menunggumu di kenyataan” dan itu benar, hadirmu
menjadi temanku untuk menceritakan pada senja, aku bahagia, kamu bahagia dan
kita bahagia. Burung kecil duduk dipinggir pantai, bersiul seakan ia sedang
jatuh cinta. Jingga nampaknya tak ingin berlalu, ia belum menunjukkan tanda ia
bosan kepadaku, ceritaku dan kita. Tapi alam sudah ada hukumnya, setelah senja
pasti malam menjemput dengan jutaan bintang dan bulan terang.
Cahanya
bulan menyinari wajahmu yang nampak begitu manis. Mata tak bisa bohong, aku
terlalu senang menatapmu dalam diam dan kini kamu benar ada dalam nyataku.
Terimakasih senja, jingga, bulan, bintang, malam, dan semua unsur pendukung
bersatunya aku dan kamu. Selalu iringi langkahku, terangi jalanku dan tuntun
aku. Aku menyayangimu seseorang yang dulu tak berani ku tatap matanya, yang
kini telah menjadi lentera setelah senja menghitam dalam hidupku. Teruslah bersamaku kita buat
cerita senja kita selanjutnya. Aku, kamu dan senja. Sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar